oleh

Petani Di Lapandewa Buton Selatan Keluhkan Penyaluran Pupuk Bersubsidi

-SOSBUD-1334 Dilihat

BUSEL, SPIONNEWS.COM – Memasuki musim tanam saat ini, hampir sebagian besar petani di Kecamatan Lapandewa Kabupaten Buton Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara, mengeluhkan proses penyaluran pupuk bersubsidi dari pemerintah karena dinilai menyulitkan para petani.

Kesulitan mendapatkan pupuk utamanya jenis Urea dan NPK itu, khususnya dirasakan oleh para petani di Desa Lapandewa yang sebagian besar masyarakatnya petani jagung. Padahal pupuk tersebut sangat dibutuhkan karena saat ini usia tanam tengah memasuki pekan ke tiga, dimana tengah memasuki tahap pemupukan.

“Sangat sulit kita dapatkan pupuk sekarang ini, padahal sudah waktunya pemupukan,” ungkap salah seorang petani yang enggan menyebut namanya, ditemui saat sedang melakukan penyiangan pada lahan jagung miliknya di Desa Lapandewa, Minggu (10/12/2018).

Hal yang sama juga diutarakan, Bapak Mindra (47), salah seorang petani di Lapandewa, yang diwawancara di depan kebunnya, di samping jalan poros Lapandewa, Senin (11/12/2018).

“Sekarang ini kita bingung, kenapa pengecer sangat menyulitkan para petani. Kenapa pengecer yang biasanya, sudah tidak melayani lagi pupuk seperti tahun-tahun biasannya. Masa ini kita harus antri dulu berhari-hari. Bahkan kemarin ada warga yang mau beli pupuk justru dipulangkan begitu saja dan disampaikan bahwa salahnya petani sendiri yang buru-buru menanam lebih awal,” ungkap dia, mengisahkan rekan petani lainnya yang mendapat perlakuan tidak layak dari agen resmi.

Sementara itu, menurut La Geni (40), salah satu pengecer yang pernah menjadi sub agen penyaluran pupuk bersubsidi di wilayah Lapandewa. Sulitnya ketersediaan pupuk bersubsidi, akibat regulasi yang dijalankan pemerintah dinilai memaksakan kehendak. Dimana, pihak distributor dan agen yang menjadi pengecer pupuk tersebut seolah memonopoli penyaluran pupuk bersubsidi khususnya di wilayah Kecamatan Lapandewa.

Bagaimana tidak, agen yang diajak kerja sama saat ini hanya satu-satunya CV Mekar Jaya dari Desa Lapandewa Jaya, yang dipercaya distributor untuk menyalurkan pupuk bersubsidi ke semua petani di Buton Selatan, dengan jumlah 100 Ton yang dibutuhkan, dinilai cukup besar jika hanya ditangani satu agen yang diketahui juga belum memiliki gudang penampung.

“Bukan kita meremehkan agen resmi saat ini, hanya saja harusnya disesuaikan juga dengan kapasitas dan kemampuannya. Jangan asal mengaku kalau tidak sanggup melayani kebutuhan para petani. Sangat tidak masuk akal bisa melayani seluruh petani se Busel, sementara waktu kebutuhan pupuk ini hampir bersamaan disemua wilayah,” cetusnya.

Dengan demikian, ia berharap pemerintah mengevaluasi agen resmi dimaksud, serta dikoordinasikan kembali ke pihak distributor agar kiranya diberikan alternatif tentang bagaimana cara dan syarat apa saja yang dipenuhi bagi pengecer yang punya niat untuk membantu mendistribusikan kebutuhan pupuk bagi petani khususnya di Buton Selatan.

“Sehingga ketika petani membutuhkan pupuk dapat secara langsung membeli dan dapat segera dipergunakan. Sehingga tidak sampai menganggu jadwal pemupukan tanaman,” harapnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buton Selatan, La Haruna SP, M.Si, mengaku regulasi tersebut merupakan kebijakan baru yang ditetapkan pemerintah.

“Untuk saat ini memang sudah berbeda regulasinya yang mengatur tentang distributor dengan pengeccer. Dimana untuk pengecer yang bisa menjadi reseler itu harus sudah memiliki badan hukum resmi, dan telah menjalin kontrak dengan distributor, hal itu untuk mencegah adanya permainan harga jual pupuk bersubsidi yang dimaksud,” jelas Haruna saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (11/12/2018).

Dikatakannya, saat ini pihaknya telah koordinasikan hal tersebut dengan pihak terkait, tentang pendistribusian pupuk bersubsidi ke semua petani yang ada di Kabupaten Buton Selatan.

“Kami sudah hubungi distributor dan pengecernya, karena kemarin juga ada dari Sampolawa yang mencari pupuk, dan saat ini distributor mereka sudah kirim pupuk urea sebanyak 10 Ton atau 200 zak ke pengecer Mekar Jaya, yang atas nama Wa Rimi itu, namun untuk NPK stok yang tersedia sementara hanya 4 ton atau 80 karung,” paparnya.

Lebih lanjut kata dia, pihaknya akan terus monitoring pihak distributor dan agen agar selalu rutin menyalurkan pupuk bersubsidi sesuai kebutuhan para petani.

“Akan didiistribusikan terus tiap harinya, hingga terpenuhi stok 100 Ton pupuk untuk kebutuhan Buton Selatan. Dan untuk di Kecamatan Lapandewa diatur maksimal 5 ton per hari,” sebutnya.

Dia pun mengakui, dengan luas wilayah dan mayoritas penduduk Buton Selatan adalah petani tanaman pangan, hal itu dinilai tidak akan efesien jika hanya dikelolah oleh satu agen pengecer. Namun karena hal ini merupakan langkah awal, sehingga diupayakan semaksimal mungkin agar ditambah jumlah agen resmi pupuk tersebut, dengan begitu diharapkan bisa terpenuhi tepat waktu penyalurannya, sesuai harapan petani.

“Nantinya setiap desa kita akan bentuk kelompok tani sehingga penyaluran pupuknya akan dilakukan melalui kelompok masing-masing yang akan mengkoordinir penyaluran pupuknya. dengan begitu akan memudahkan baik dari distributor ke pengecer hingga ke petani,” imbaunya.

Dia juga menambahkan, jika ada penambahan kuota untuk kebutuhan pupuk di Buton Selatan ini, pihaknya akan tindaklanjuti dengan merelokasikan dari kuota pupuk yang ada di Kabupaten lain yang tidak begitu banyak membutuhkan pupuk.

“Seperti di Wakatobi jika dikonfirmasi jumlah kuota pupuk yang disediakan melebihi dari kebutuhan petani maka kita akan usulkan untuk direlokasikan di Buton Selatan,” tutupnya. (Basir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed