oleh

Sekelumit Kisah Nyata Hidup Rumah Tangga Mansyur

-HEADLINE, MALTENG, SOSBUD-14900 Dilihat

MASOHI, SN – “Tahun 2004 aku menikah. Dalam perjalanan pernikahanku kurang lebih satu tahun aku dikaruniai seorang anak laki-laki. Namun apa hendak mau dikata, berjalannya waktu karunia itu kurang lebih tiga bulan dipanggil lagi oleh sang pencipta,” ujar Mansyur kepada wartawan spionnews.com via telepon seluler, belum lama ini.

Lebih lanjut, Mansyur menceritakan sekelumit kisah nyata tentang kehidupan rumah tangganya itu, bahwa saat itu dirinya hampir putus asa karena sering diberikan cobaan oleh Allah SWT. “Diberikan lagi cobaan, istriku antara hidup dan mati karena sakit keras. Namun dengan kuasa Allah aku diberikan kesabaran dan Alhamdulillah cobaan itu bisa aku lewati dengan penuh sabar dan ikhlas atas cobaan itu. Akhirnya istriku bisa disembuhkan,” ucapnya.

Namun, masih kata Oyo sapaan akrap Mansyur, hari berganti hari bulan berganti bulan tahun pun berlalu kurang dan lebih delapan tahun mereka berdua sepakat untuk berpisah dengan tujuan sama-sama kawin lagi untuk mencari keturunan. “Dalam perjalanan waktu kurang lebih empat tahun, setelah saya menikah kedua kali aku diberikan dua putri dan yang menyedihkan istriku yang kutinggalkan itu menikah lagi kurang lebih empat tahun tidak diberikan keturunan dan akhirnya dia ditinggalkan oleh suaminya lagi untuk kedua kalinya, begitu juga aku ditinggalkan oleh istri keduaku itu juga,” imbuhnya.

Namun dibalik semua itu, lanjut Oyo, Allah berkehendak lain dengan kuasanya itu mereka berdua dipertemukan lagi. “Alhamdulillah dalam singkatnya waktu setelah kami menikah kembali yang kedua kalinya dengan istriku sekarang ini kami telah diberikan anak, dua putri dan satu putra. Dan dalam kehidupan saat inilah kami bahagia sampai dengan hari ini. Dan semoga kebahagian ini untuk selama-lamanya. Amin,” harapnya, sembari menjelaskan, mereka berdua itu sebelumnya sudah menikah, namun pernah cerai dan disatukan kembali oleh Allah SWT.

Lebih jauh, Mansyur menjelaskan tentang dirinya, bahwa ia dilahirkan di Saparua pada tanggal 15 Juni 1981 dan anak ke-7 dari 12 bersaudara. “Anak ke-1 La Jafar (49), ke-2 Wa Pine (47), ke-3 Wa Jamila (45), ke-4 almarhumah Wa Sano (43), ke-5 La Judin (42), ke-6 La Acang  (41), ke-8 almarhum La Biru (38), ke-9 La Baeng (37), ke-10 almarhum bayi (35), ke-11 Wa Sumiati (31), dan adikku yang ke-12 Margono (30),” ungkapnya, sembari menambahkan, saat ini ayahnya sudah almarhum bernama La Unu (66), pekerjaan ayahnya nelayan dan ibunya bernama Wa Dasi (63) serta pekerjaan ibunya mengurus rumah tangga.

Ia masuk sekolah SDN 3 Saparua  tahun 1990, tamat SD itu pada tahun 1996. Masuk SMPN 1 Saparua di Waisisil tahun 1996. “Sudah mau ujian SMP, namun saya putus sekolah itu karena kerusuhan tahun 1999 di Saparua pada tanggal 19 sekitar bulan 7, sehingga kami mengungsi ke Masohi menggunakan perahu belang pakai mesin TS. Pada waktu itu kami berangkat dari Saparua ke Masohi pada jam 10 pagi dan tiba di Masohi jam 5 sore, tepatnya di Pantai Kelurahan Lesane Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku,” ujarnya.

Selain itu, dirinya mengungkapkan bahwa pada tahun 2001 ia mulai bekerja sebagai kuli bangunan dengan upah harian sebesar Rp. 22.500 per hari. “Itulah upah pertama saya bekerja dan saya bekerja di tempat itu kurang lebih tiga minggu lamanya, kalau tidak salah saya bekerja selama 18 hari sehingga  saya menerima upah sebesar Rp. 405.000. Saya bekerja di proyek pembangunan gudang semen milik PT. Beringin Dua dan saya diajak kerja oleh La Andi. Dan uang hasil kerja saya pertama kali itu, setelah saya terima langsung saya kasih ke ibuku,” ucapnya, sembari menambahkan,  selain pekerjaan sebagai kuli bangunan, dirinya juga pernah bekerja sebagai nelayan tangkap, pekebun dan pedagang ayam kampung.

Untuk diketahui, masih kata Oyo, nama lengkap istrinya itu, Santi Muhamad Naim, yang dilahirkan di Dusun Mahu Desa Tehoru Kecamatan Tehoru pada 23 April 1985. Istrinya itu anak ke-6 dari 7 bersaudara. Anak ke-1 bernama Wa Ani (47), ke-2 Siamu (46), ke-3 Muhamad (45), ke-4 Hayati (44), ke-5 Wa Mina (41), ke-7 Wa Ida (32). Ayahnya bernama Muhamad Naim (69), pekerjaan petani, ibunya bernama Wa Haji (63), pekerjaan mengurus rumah tangga.

Istrinya itu, mulai masuk SDN 1 Mahu Kecamatan Tehoru pada 1995 dan tamat tahun 2001. “Istriku tidak lanjut sekolah SMP karena kerusuhan, saat kerusuhan keluarga istriku mengungsi ke Desa Suplesi Kecamatan Tehoru,” ujarnya, sembari menambahkan, istrinya itu pertama kali bekerja dan menerima upah pada tahun 2006 sebanyak Rp. 200.000 sebagai pembantu rumah tangga di Bapak Daeng Mat Dua Kembar yang saat itu bertempat tinggal di Desa Gemba Kecamatan Kairatu Kabupaten Maluku Tengah.

Pertama kali dirinya bertemu dengan istrinya itu pada tahun 2000 di Dusun Mahu. “Saya ke Dusun Mahu pada saat itu dalam rangka jalan-jalan ke rumah paman saya Bapak La Tuni, adiknya mama saya. Rumah istriku kebetulan tidak terlalu jauh dengan rumah pamanku itu sekitar 200 meter dari rumah pamanku,” ungkapnya.

Dirinya pertama kali jatuh cinta degan istrinya itu karena mendengar lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan oleh istrinya di suatu acara hajatan di Dusun Mahu. “Saya tertarik sama istriku itu, awal ceritanya saya mendengar suara dia mengaji di rumah kakaknya yang rumahnya berdekatan dengan rumah pamanku. Pada saat itu saya mencoba untuk bertemu dia di rumah kakaknya itu tetapi tidak ketemu dengan dia,” ucapnya.

Akibat penasaran, dirinya berusaha keras berbulan-bulan untuk bisa bertemu dengan calon ibu dari anak-anaknya itu. “Karena saya semakin penasaran sehingga saya tanya sama tentangga dimana rumahnya. Atas petunjuknya itu, beberapa hari kemudian saya langsung ke rumahnya, namun belum juga ketemu dengan dia. Nanti setelah saya pulung dulu ke Masohi, baru kembali lagi ke Mahu baru bisa ketemu dengan dia. Singkat cerita kami menikah pertama kali pada tanggal 23 April 2004,” demikian Oyo. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

News Feed