oleh

Dampak Covid-19 “Rejeki Berkurang Cara Baik vs Cara Buruk”

-SOSBUD-487 views

SPNews.com, Nasional, Masa pandemi covid 19 yang telah terjadi mengisahkan cerita duka di negeri ini, banyak negara mengalami defisit anggaran dan hal ini memperburuk keadaan, hal ini tentu berdampak lebih pada pedagang, pengusaha dan masyarakat kecil.

Hal inilah yang menggerakkan wartawan spionnews.com untuk melakukan investigasi dan ingin melihat langsung tentang kondisi masyarakat yang terdampak pandemi covid 19 di kota Bandung.

Aldi, Salah satu penjual nasi goreng mengeluhkan adanya pandemic ini, saya setiap malam menjual nasi goreng mulai dari jam 7 malam sampai jam 2 dini hari dan Alhamdulillah hasilnya bisa untuk kebutuhan istri dan 4 orang anak, setelah adanya larangan berkerumunan atau PSBB semuanya berubah, omset merosot tajam karena kami penjual hanya dibatasi menjual sampai jam 9 malam lewat dari jam yang ditentukan akan di razia dan di amankan jualan kami oleh petugas, keluhnya. Belum lagi minat pembeli berkurang karena opini yang beredar di masyarakat terlalu dibesar-besarkan, sambungnya.
Saya tidak takut dengan corona, saya hanya takut kepada Tuhan dan saya yakin malaikat maut tidak mungkin salah alamat, tutupnya.

Aldi bukan merupakan salah satu penjual yang dijumpai kru spionnews.com. Beberapa penjual di pinggir jalan yg dijumpai dan meminta keterangan juga mengungkapkan nasib yang sama. ada salah seorang pedagang mengatakan, jika situasi dan kondisi ini tidak ditangani secara baik, maka akan berimbas pada masyarakat ataupun negeri ini, akan banyak orang-orang yang bertahan hidup dengan cara apapun meskipun itu harus melanggar norma-norma yang berlaku di NKRI, ungkap pedagang rokok yang tidak ingin disebutkan namanya.

Di lain tempat, di kota Jakarta, wartawan spionnews.com berhasil mewancarai salah satu Wanita Tuna Susila(WTS)yang setiap malamnya beroperasi di pinggir jalan menanti para pria hidung belang.

Wanita muda berusia 22 tahun sebut saja Lita (nama samaran), mengaku sudah menjalani pekerjaan ini selama 6 bulan sejak dirinya di PHK massal dari perusahaan tempatnya bekerja akibat dampak dari pandemic sehingga perusahaan tidak mampu membiayai gaji-gaji karyawan.

Dari Jawa tengah bermodalkan ijazah SMA mencoba mengadu nasib ke Jakarta dengan bekerja sebagai buruh pabrik karena ingin membantu meringankan ekonomi keluarga diakibatkan orang tua yang sakit-sakitan.

Saya rindu mereka orang tuaku, ingin sekali pulang ke kampung akan tetapi ada rasa iba dengan keadaan mereka, saya tidak ingin mereka tahu dengan keadaanku, karena saya iningin mereka selalu bahagia ketika saya pulang, ucap Lita.

Pekerjaan yang saya geluti sekarang sebagai WTS bisa membantu orang tua di kampung, mereka pun tidak mengetahui pekerjaan saya saat ini, orang tua hanya tahu saya masih bekerja sebagai buruh pabrik dan saya tidak ingin mereka sedih akan hal ini, kisahnya sambil mengusap air matanya.

Sebenarnya saya tidak ingin seperti ini mas, namun saya merasa diriku gagal dalam urusan pekerjaan dan dalam urusan asmara, ungkapnya pada wartawan spionnews.com sambil menutup pembicaraan.

Lita juga menjajakan dirinya melalui aplikasi chat yang sering digunakan teman-temannya, di situ ada istilah “BO” atau Booking Out yang tidak asing bagi sebagian orang, tujuannya hanya untuk memperluas jaringannya agar menambah penghasilan.

Liputan khusus : tim spionnews.com
Editor : Hari 23

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed