oleh

Rinawati Acan Nurali “PENGANTIN TUHAN MEMAHAMI DIRI LAKI-LAKI MELALUI DIRI PEREMPUAN”

-OPINI-266 Dilihat

“Wanita Dewasa”

Jilbab kerap kali dipahami sebagai bentuk penindasan agama terhadap perempuan. Melalui agama menjadikan perempuan tidak bebas bahkan semakin terkungkung didalam rumah, yang paling ekstrim, perempuan hanyalah pencetak anak dan pemuas seksual laki-laki, sebagiannya menganggap bahwa agama telah menjadikan dominasi laki-laki terhadap perempuan sehingga dalam pembagian harta warisan pun perempuan mendapatkan harta sedikit ketimbang laki laki.

Wanita hanya duduk dirumah dalam kungkungan laki-laki karena keluarpun harus atas ijin suaminya. Betapa nestapa perempuan dalam perjalanan hidupnya, bahkan secara historis, kelahiran perempuan adalah aib bagi keluarga. Seperti kita lihat kisah bunda Maryam. Ketika itu seluruh masyarakat dan kalangan agamawan menganggap istri Imran akan melahirkan anak laki-laki sebagai juru selamat (Isa Al-masih) bagi Bani Israil dari penjajahan Romawi dan penghianat kaum agamawan saat itu, namun faktanya yang terlahir adalah seorang wanita yang kemudian diberi nama Maryam sehingga kelahiranya dianggap aib oleh orang-orang yang kemudian menjauhi keluarga Imran tersebut.

Pada masa Jahiliyah Kisah bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup karena dianggap merusak nama baik keluarga menjadi perjalanan historis perempuan dalam dirinya bahwa mereka adalah jenis kelamin yang haram dilahirkan akhirnya berimplikasi pada pembunuhan dan penguburan terhadap bayi-bayi perempuan.

Pada masa Revolusi Industri para perempuan menjadi buruh dalam industri bekerja bersama laki-laki. Walau waktu kerja mereka sama, namun dalam pembagian gaji terdapat perbedaan-karena perempuan dianggap mahluk paling lemah dan hasil produksinya lebih sedikit ketimbang laki laki, juga hasil kerja perempuan yang dianggap sebagai produksi yang tidak sempurna. Sejatinya dalam historis, agama, dan revolusi industry pandangan sekejap tampak sangat mendisktriminasi perempuan. Pertanyaanya adalah ada apa dengan perempuan?, kenapa perempuan senantiasa menjadi stigma lemah, budak sex, tempat produksi anak, bahkan dalam kehamilan di luar nikah justru dapat ditemukan perempuan yang lebih merasakan malu dan deritanya ketimbang laki-laki.

Berangkat dari itu muncullah gerakan feminisme, awalnya feminisme dimaknai sebagai suatu kesadaran terdapat kekerasan dan penindasan terhadap perempuan dalam lingkungan masyarakat, baik itu ditempat kerja maupun dilingkungan keluarga serta tindakan sadar perempuan dan laki-laki untuk mengubah tindakan tersebut, sehingga makna feminisme lebih dominan kepada tindakan kerja sama laki-laki maupun perempuan dalam memperjuangkan ketertindasan perempuan.

Namun faktanya, gerakan feminisme mejadi gerakan bagaimana untuk menyamakan posisi lebih dari pada laki-laki, maka muncullah gerakan feminisme liberal yang menganggap bahwa manusia diciptakan dengan hak-hak yang sama dengan laki-laki serta mempunyai peluang dan kesempatan yang sama terhadap laki-laki, hanya saja peluang dan kesempatan yang sama belum diberikan kepada perempuan sehingga ada tuntutan bahwa prinsip-prissip kesetaran tersebut harus diteriakan dan dilaksanakan sekarang juga. Yang paling ekstrim bahwa sistem patriarki dapat dihancurkan dengan cara mengubah cara pandang dan sikap perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki. perempuan harus menyadari dalam menuntur hak-hak ini sampai laki-laki tersadar sehingga terbentuk suatu masyarakat baru yang disitu, laki-laki dan perempuan bekerja sama atas dasar kesetaraan.

Begitu pula aliran feminisme Marxisme yang kehadirannya merespon feminisme liberal dalam hal status dan peran perempuan. Feminisme Marxisme menganggap bahwa ketertinggalan perempuan disebabkan oleh struktur sosial, politik dan ekonomi terkait dengan sistem kapitalisme dan memustahilkan jika perempuan sama dengan laki-laki memustahilkan mereka hidup dalam masyarakat berkelas.

Terkait dengan persoalan perempuan dan keluarga merupakan kesatuan produksi yang disitu keterlibatan perempuan cukup besar, anggota lain sangat menentukan dalam mempertahankan hidup, namun sesudah kapitalisme indistri berkembang tidak ada kesatuan produksi lagi karena telah beralih kesatuan produksi berpindah dari rumah tangga kepabrik-pabrik. Seterusnya, pembagian kerja secara seksual, laki-laki yang secara public yang produktif dan bernilai ekonomi dan perempuan disekitar domestic yang tidak ada nilai produktinya serta ekonomis. Karena kepemilikan materi yang menentukan nilai eksistensi seseorang maka mengakibatkan perempuan dalam sector domestic tidak prosduktif sehingga perempuan lebih rendah dari pada laki-laki.

Sedangkan menurut feminisme radikal berpandangan bahwa factor utama dalam pembagian kerja secara seksual dan sistem patriarki sehingga laki-laki mengandalikan perempuan dengan kekuasaanya. Sumber kelemahan perempuan bisa pada struktur biologis dan dapat diatasi dalam memanfaatkan kemajuan teknologi.

Gerakan feminisme radikal kemudian dikenal dengan gerakan perempuan yang memperjuangkan realita seksual bahkan mempunyai strategi menghancurkan patriarki sebagai sistem nilai yang melembaga dalam masyarakat. Yang sangat ekstrem ada;ah memutuskan hubungan perempuan dengan laki-laki yang kemudian dikenal dengan feminisme lesbian, gerakan ini secara politis ingin eksis sebagai perempuan yang melawan laki-laki, akan menyadarkan kembali kerja sama saling memberi dan menerima dengan cinta kasih yang sesuangguhnya.

Sedangkan dalam gerakan Feminisme sosialis berangkat dari mensintetiskan gerakan feminisme marxis dan feminisme radikal, adanya perempuan dalam partisipasi produksi dan dan status perempuan. Feminsime sosial dikenal dengan asumsinya bahwa hidup dengan masyarakat kapitalis bukan satu satunya keterbelakangan perempuan. Selain dinegara sosialis dan Negara kapitalis, perempuan terjun dalam pasaran kerja dan beberapa perempuan secara ekonomi sudah mandiri meskipun dalam kenyataanya masih terkungkung dalam sistem patriarki.

Berbeda halnya dengan Fungsionalisme Struktural yang menganggap bahwa pembagian kerja perempuan dan laki-laki tidak didasarkan pada disrupsi melaian pada pelestarian harmoni dan stabilitas dalam masyarakat yaitu perempuan dan laki-laki melaksanakan peran masing masing.

Walaupun gerakan perempuan yang memperjuangkan eksistensinya dengan laki laki namun pada akhirnya mereka mengalami alienasi pada dirinya bahkan sehebat apapun dalam gerkan perempuan mereka memiliki naluri keibuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Ketika gerakan itu digembar gemborkan menjadikan diri perempuan tampak kehilangan sisi keibuan yang kemudian mereka tidak bisa pungkiri bahwa itu bagian dari eksistensi mereka walaupun perjuangan gender memperjaungkan hak KB, Aborsi tapi tidak menghilangkan pada diri mereka pentingnya memiliki anak.

Maka wajarlah gerakan gender adalah kosntruksi imajiner yang mengalienasi diri sendiri, berbeda dengan fungsionlisme- strukturalis yang memilih untuk pembagian kerja namun pembagian kerja pun adalah jarak dari keduanya.
Berangkat dari itu, bagaimana pemikiran islam menjawab problem perempuan.
Berangkat dari problem-problem diatas maka pertanyaan kita adalah ada apa dengan perempuan, siapa sebenarnya perempuan yang dalam perjuangan pun melanggengkan eksistensi dominasi laki-laki terhadap perempuan? Apa makna perempuan adalah tiang Negara? Bahkan Ali bin Abu Thalib mengatakan tidak memuliakan perempuan kecuali orang hina! Dalam perkataan lain bahwa setiap tetes air mata perempuan karena disakiti laki-laki maka setiap tetesan itu malaikat melaknat laki-laki yang membuatnya menangis.

Dalam kehidupan kita, kita tidak akan terlepas relasi antara Alam-Jiwa-Akal-Tuhan. Setiap yang terindrai akan memasuki jiwa manusia sebagai gambaran gambaranya, Bergama gambaran yang dihadirkan dalam jiwa melalui pengindraan sebagai sumbernya, melihat batu maka akan menghadirkan batu dalam konsep (jiwa) kita sehingga kita mampu membandingkannya bahwa ini batu bukan polpen, atau pohon kelapa lebih tinggi dari pada pohon jagung itu semua berkelindan dalam jiwa, sehingga melaluinya kita memahami sesuatu yang baru di akal kita yang suatu pahaman yang kehadirannya melalui pengindraan.

Begitu pula seluruh problem perempuan diatas yang merupakan problem problem alam material yang mampu kita konsepsikan dalam jiwa sehingga kita mampu membandingkan dan masing masing kita memilah setiap problemnya, sehingga memunculkan pahaman baru pada diri manusia yang tidak dapat kita megindrainya, namun kebenarannya terakui oleh akal manusia, misalakan bahasa segala sesuatu memiliki sebab akibat, sebagian lebih besar dari keseluruhan, segitiga bersisi empat adalah mustahil, itu adalah pahaman akal yang kehadiriannya secara potensial dari hubungan pengindraan terhadap alam yang terkonsepsikan dalam jiwa kemudian menghadirkan pengetahuan akal tersebut secara mandiri didalamnya, artinya kehadirannya kemudian melepas diri dari sumbernya yaitu alam dan jiwa.

Tapi pertanyaan kita adalah bagaiamana pahaman akal itu bisa actual dalam akal kita padahal ia berbeda jauh dengan apa saja yang ada pada alam, maka ada dua keadaan pada jiwa manusia yaitu jiwa menerima dari alam dan jiwa menghadirkan segala penegetahuan darinya, ketika kita imajinasikan batu yang pernah kita melihatnya maka ada dua keadaan yaitu hadirnya batu itu dalam jiwa kita melalui pengindraan dan yang memberikan kehadiran itu dalam jiwa, padangan yang menerima dari alam dipahami sebagai feminisme sedangkan yang menghadirkan dalam akal itu adalah maskulinitas, maka dalam jiwa terdapat dua kecenderungan manusia yaitu feminis dan maskulin, namun jiwa tidak memiliki jenis kelamin sehingga kecenderungan ini menjadi penentu mana yang lebih dominan akan menjadikan salah satunya mendominasi manusia maka wajarlah kehadirann banci dan tomboy adalah kecenderungan dalam jiwanya antara feminis atau maskulinitas.

Dari sini dalam jiwa telah kita menemukan dua keadaan namun bagaiamana kita menemukan feminis sebagaimana feminis yang wataknya menerima? Olehnya itu ketika kita turunkan watak yang menerima dialam semesta maka kita akan menemukan bahwa alam semeta sifatnya menerima, terdapat relasi saling menerima pada alam material, bagaimana air laut menerima dirinya untuk dihisap awan yang kemudian menjadikan hujan, bagaimana bumi merelakan dirinya menerima air hujan yang menumbuhkan tanaman tanaman, maka relasi alam adalah saling menerima sebagai bentuk eksistensinya, namun kita berbicara dalam konteks manusia maka dimanakah letak manusia secara fisik yaitu menerima ketika kita melihat manusia yang menerima hanya terdapat pada diri perempuan secara jenis kelaminnya maka perempuan telah kita temukan dirinya dalam bentuk feminis, namun karena struktur kita adalah alam-jiwa-akal-tuhan maka bagaimana kita menemukan maskulinitas di alam? Karena watak akal adalah maskulin maka akal menjadi wakil tuhan untuk menurunkan manusia yang akan menjaga perempuan dialam semesta yang sifatnya mendekati sifat sifat Tuhan maka ketika kita membuka asmaul husna tiada satupun sifat tuhan yang feminis semua sifatnya maskulin atau memberi, maka dibutuhkan utusan yang sifatnya memberi untuk memakmurkan bumi dan menjaga eksistensi feminisme, karena feminis dan maskulin bertemu dalam jiwa yang satu maka menjadi keharusan untuk bertemu dialam semesta maka Tuhan menurunkan sifat sifat maskulin itu melalui Nabi-nabinya (inilah alasan semua nabi adalah laki-laki) sehingga turunlah utusan yang sifatnya memberi dialam semesta yang kita temukan dalam diri Muhammad S.A.W sebagai laki-laki sehingga Rasulullah (Laki-laki) adalah manifestasi Tuhan untuk menjaga alam semesta yang direpresentasikan sifatnya feminis disinilah karena dalam jiwa bertemu antara feminis dan maskulin maka kensicayaan pertemuaanya dialam semesta, maka disinilah muncul kewajiban(keniscayaan) pernikahan.

Barangsiapa yang tidak menikah maka ia bukan umatku (hadis nabi). Selanjutnya trunnya sifat maskulinitas merupakan implementasi kerinduan Tuhan terhadapa perempuan dialam semesta maka diharuskan diturnkannya penjaga alam semesta dan perempuan melalui Muhammad maka perempuan sebagai feminis yang sifatnya hanya menerima memiliki penantian, namun kesadaran penantian ilahilah yang menjadikan ia menjaga kesuciannya karena akan didatangi manusia suci, perempuan menjadi kewajiban menjaga kesucian dalam penantiaanya dengan menutup auratnya serapat mungkin karena yang akan datang adalah manifestasi Tuhan yang suci yang dalam bentuknya laki-laki. Muhammad S.A.W telah diturunkan dengan segala sifat memberinya menjadikan laki-laki dengan sikap memeberinya kepada perempuan.

Karena maskulin dan feminism pernah eksis dalam jiwa maka dialam menjadi keniscayaan pertemuaanya yaitu melaui jalan pernikahan, karena penantian adalah penderitaan akan kerinduan sedangkan pencarian adalah penderitaan akan kerinduan yang hanya dapat terobati dengan pertemuan maka pernikahan adalah jalan suci insan manusia untuk memasuki rumah cinta dalam diri perempuan dengannya seksualitas menjadi pertemuan hakiki antara maskulin (laki-laki) dan Feminis (penerima) namun dalam seksualitas pada akhirnya laki-laki akan menjadi feminim dengan perempuan akan menjadi maskulin dalam proses pembuahan, disitulah awal kehidupan baru dalam Ruh Muhammad. Maka perempuan dalam rumah cinta, mereka menjadi dirinya adalah menjaga kesucian Tuhan dalam dirinya dan mengotorinya adalah petaka dirinya sedangkan laki-laki membawa misi kesucian yang dipertemukan dalam kamar pengantin Tuhan (pernikahan).

Ilahi rabb atas segala kebenaran-Nya yang telah membimbing manusia melalui akalnya untuk melihat kebenaran Tuhannya.

Penulis :
Rinawati Acan Nurali
Mahasiswa Jurusan Sejarah
Universitas Dayanun Ikhwanuddin
Kota Baubau

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed