oleh

Siraturahmi Dengan Foma-Foma’a, Kegiatan Adat Patuhi Protokol Kesehatan

-BUTENG, HEADLINE, SOSBUD-622 Dilihat

SPNews.com, Buton Tengah, Kade Kandea, atau dalam bahasa Baruta disebut Foma-foma’a ,merajut tali siraturahmi ditengah normalitas pandemi covid-19 agar tetap tercipta harmonisasi ditengah Masyarakat Desa Baruta Lestari, 22 Mei 2021.

Dalam kegiatan ini, dihadiri oleh sekda dan struktur perangkat Desa serta Keluarga Besar Desa Baruta. Pada proses acara adat ini, biasanya dilakukan setiap tahunnya untuk bisa saling berhubungan dengan keluarga yang jauh dan dekat.

Dalam kegiatan adat ini, walaupun di masa Pandemic, pelaksanaan kegiatan ini, dengan mengikuti standar protokol kesehatan.

Foto : Masyarakat Baruta Lestari, Patuhi Protokol Kesehatan.

Dr. Abdul Kadir, dalam pembawaan hikmah Kegiatan Foma-foma’a, mengatakan “Di dalam tradisi Islam di kenal dengan nama Halal Bi Halal, di Dalam Masyarakat Buton, dinamakan Kande Kandea, dan dalam bahasa Baruta disebut dengan Foma-Foma’a” tuturnya.

Setelah dilatih oleh Allah SWT, Kata Kadir, lanjutnya, dalam meningkatkan kwalitas diri, dimana di dalamnya, terdapat Integritas atau yang disebutkan Akhlak sebagai ketakwaan kepada Allah SWT.

“Dalam puasa ada ketaatan, kedisplinan, dan kebersamaan, agar kita simpati dan empati terhadap saudara – saudara kita yang tidak beruntung seperti kita” jelasnya.

Kadir menambahkan, untuk orang kaya biasanya, setiap harinya menanyakan orang rumah, mau makan dimana hari ini, namun bagi saudara kita yang kaum duafa, setiapnya berkata mau makan apa hari ini.

” Hal inilah yang menjadi momentum kita selama bulan puasa, kita saling membagi nikmat dan ujian bagi orang – orang yang kaum duafa tersebut, sehingga nilai kebersamaan menjadi erat” tuturnya.

Harapannya, Jika anda saudara, kalau ingin bahagia dalam diri, Yang harus di jaga adalah nilai siraturahmi yang akan menebus dari tembok yang ada dalam tatanan sosial, dan dengan Siraturahmi dapat meningkatkan rejeki dalam hidup, dan dengan Siraturahmi dapat menumbuhkan hubungan siraturahmi antara anak bangsa sebagai kekayaan dalam modalitas membangun bangsa dan negara kita.

“Dan yang terakhir hubungan sesama makhluk, karena berhubungan dengan akhlak, karena dalam kepemimpinan sangat penting, untuk bisa saling berbagi dalam kebersamaan, karena pemimpin harus bisa menjamin, rasa aman bagi masyarakatnya, rasa nyaman, dan tenram, agar bisa menjadi contoh yang baik, demi menciptakan rasa siraturahmi antara masyarakatnya” Ucapnya.

Liputan khusus : Hari

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed