oleh

Rinawati Acan Nurali, Cerpen : Nenek Dokter

-PENDIDIKAN-407 Dilihat

“Perempuan Itu Bernama Nenek Dokter Pekerja”

Pagi menjemput, dikala nenek tengah bersiap-siap untuk rutinitas paginya. Dengan sapu lidi ditangan kanannya juga sekop sampah ditangan kirinya. Pakaian kerja lengkap membalut ditubuhnya yang rentah.

Usianya cukup dikatakan sebagai orang tua yang sudah sepantasnya bersantai depan rumah, dengan segelas susu penambah stamina tulang dan kucing yang menemaninya. Bermalas-malasan, bersantai ria, menunggu anak-cucunya menyiapkan makan siang dengan menu sayur pepaya rebus kesukaannya. Namun dia tidak demikian. Dia tidak suka menyusahkan orang lain. Bahkan jika dia sakit, dia lebih memilih unuk bisa melayani dan mengobati dirinya sendiri. Mungkin nenek pengejewantahan perempuan super yang bisa melakukan apapun dengan kekuatannya sendiri. Selain itu didesa ini nenek menjadi tetua yang disegani, selain perempuan yang dituakan dia juga menjadi dokter verbal yang menjadi penolong pertama dikala tidak ada dokter medis.
Pagi itu nenek bersiap untuk melakukan pekerjaan kantornya sebagai pegawai PU [pekerja umum], namun suara perempuan paruh baya disebelah dinding papan mengalihkan perhatian nenek. Perempuan itu datang dengan menggendong gadis mungil berparas jelita, dengan suara tangis yang masih melekat dikerongkongannya. Gadis itu sedang tidak sehat, dengan muka memerah karena demam. Juga hidung memerah karena pilek juga efek tangisnya. Nenek tidak melanjutkan aktivitasnya, ia berhenti sejenak menyambut kedatangan dua perempuan itu. Perkakas kerjanya disimpan. Dipersilahkan kedua perempuan itu masuk kerumah. Nenek mendekat, melihat dan meraba wajah gadis mungil itu. “sejak kapan badannya panas” tanya nenek sembari masih terus merabah wajah dan anggota badan yang lain. “sejak semalam, ne” jawab perempuan paruh baya itu sambil menatap gadis mungil yang masih dalam dekapannya. Nenek hanya mangut-mangut, seolah telah paham dengan apa yang terjadi.

Nenek memulai ritualnya. Memamah gorakah (jahe) kering, membaca mantra penyembuh hingga terlihat bentukan mulut dan bibirnya yang berkomat-kamit seakan berbicara pada diri sendiri. Ubun-ubun gadis itu ditempeli gorakah kering yang telah dikunyah. Konon itu sebagai media pengusir setan. Gadis mungil itu hanya terdiam dalam dekapan sang mama, melihat ritual yang dilakukan si nenek.

Wejangan telah diberikan, dengan botol air yang dibawah perempuan bayah itu-ia meminta untuk didoakan agar menjadi obat anak gadisnya. Nene menyanggupinya. Ia memberikan botol air sirup abc itu ke nene, nenek kemudian membacakan doa didalam mulut botol itu. selesai semua, perempuan itu bersalaman dengan nenek dan pamit pulang. Nenek mengangguk. Ia berdiri mengantarkan kedua perempuan itu kedepan pintu, dengan berucap agar hati-hati dalam perjalanan. Mereka mengangguk, terlihat berjalan jauh meninggalkan rumah. Nenek masih terus berdiri hingga kedua bayangan itu menghilang, nenek kembali mengambil perkakasnya dan menuju tempat ia berkerja.

“Nak, manusia itu tak selamanya sendiri. Mereka juga butuh pertolongan orang lain. Dan yang menolong pun tidak bergantung dengan kekuatannya sendiri, ia punya Tuhan. Dengan kekuatan itu, dia bisa menolong orang lain. Maka bersyukurlah hari ini kamu masih diberikan kekuatan, energi untuk bisa bergerak dengan leluasa. Karena rezki kita bukan hanya soal uang tetapi udara ini juga rezki nikmat dari Tuhan”,

setelah berbicara kepada cucunya, nenek pergi dengan membawa perkakas yang disimpannya. Nenek kembali bekerja sebagai warga yang taat dengan aturan atasan dan sebagai warga yang mencari nafkah.

By. Rinawati Acan Nurali : Mahasiswa Unidayan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed