oleh

ACARA ADAT “Mata Air Rano Dibersihkan”

-BUSEL-1245 Dilihat

“Acara Adat Pembersihan Air (Pilumeano Wee)”

SPNews.com, Busel – Tradisi Acara Pembersihan Air ( Pilumeano Wee) di laksanakan setiap tahun,Namun Penyelenggaraan Pilumeano Wee Seperti saat ini (Acara Kande-Kande ana) dilaksanakan dua tahun sekali.”Ketentuan Ini di kutip berdasarkan janji orang tua yang pertama menemukan air Awatanjo yang dikenal saat ini La Rano.

Irfan, Ungkapnya, Sebelum Ritual Adat dilaksanakan dari jam yang terjadwal (siang hari).Maka terlebih dahulu,Pagi hari dilakukan kegiatan gotong royong membersihkan air, Adapun peserta yang tergolong kedalam pembersihan air, seluruh masyarakat, prioritas utama dalam pekerjaan ini adalah pemuda setempat Kampung Rano, Desa Bola Kecamatan Batauga Kab. Buton Selatan, Rabu, 23/6/2021.

Pasalnya, Sebelum air di bersihkan,di keringkan air nya terlebih dahulu dilakukan ritual,(sesajen) seperti bakar kamanyiang (dupa).”ironisnya yang melakukan bakar kamanyiang ini harus orang yang berketurunan daripada air tersebut.selanjutnya ketika ritual ‘ bakar kamanyiang selesai’. maka di lanjutkan oleh pembersihan air sampai selesai.

Rusdi, berkata, Dalam selang waktu air dibersihkan,adat kebiasaan yang di lakukan dari turun temurun adalah melakukan siram-menyiram bagi yang mendekat diharuskan basah (disiram dengan air) dengan ketentuan tidak bisa mengelak, ataupun marah siapa pun dia.

Adapun yang bisa di perbolehkan untuk tidak tersiram air adalah Wartawan , dengan ketentuan harus terlebih dahulu menyampaikan/izin kepada Kepala Pemuda agar disampaikan ke pada pemuda yang sedang melakukan kegiatan pembersihan air. Mengingat,jika ketika mengambil dokumentasi tanpa izin dari kepala pemuda imbasnya akan tersiram oleh air.Tuturnya!

Dahlan, Menambahkan pembersihan air (Pilumeano Wee),Acara sakral nya adalah Pagi hari,ketika melakukan Bakar kamanyiang (dupa)Pembersihan batu-batu sumur, dinding, mengeluarkan air sumur yang ada ,siram-menyiram,dan dilanjutkan dengan ‘Tari Mangaru’.Tangkasnya!

Dahlan melanjutkan, Setelah air selesai di bersihkan.maka akan di lakukan sesajen akhir,guna air yang sudah surut (kering)akan muncul lagi dengan langkah dilakukan tari tradisional (Tari Mangaru) Salah satu simbolis naik nya mata air yang telah kering,akan muncul kembali air seperti semula.

Wartawan Spionnews, Menyimpulkan Bahwa Acara Adat seperti ini patut di lestarikan,sebab mengandung nilai-nilai yang dapat memberikan sisi positif terhadap generasi, Khususnya Generasi Muda setempat” Desa Bola (Rano) Kecamatan Batauga Kabupaten Buton Selatan”.

Peliput L.R

Editor : Hari

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed