oleh

Ritual Adat Puncak Siontapina “Ada Makam Oputa Yi Koo”

-SOSBUD-306 Dilihat

SPNews.com, Buton- Kegiatan budaya tiap tahun yang lakukan oleh masyarakat Adat di Puncak Siontapina mulai dari acara perjalanan menuju puncak dari 22/10/2021, selama 2 hari dan harus bermalam di jalan, karena menjadi bagian dari proses ritual adat Puncak Siontapina, Kab. Buton.

Acara adat ini dilakukan setiap tahunnya, dan dilaksanakan oleh 2 Desa Di Kab. Buton, yaitu Desa Wauamba, dan Desa Labuandiri, serta masing-masing berangkat dari desa pada tanggal yang sama, dan tiba di Puncak Siontapina Senin, 25/10/2021.

Tahun 2021 tim Redaksi Kab. Buton, bersama Kepala Desa Sri Batara, dan 41 orang yang menjadi rombongan dalam acara tersebut, berangkat dari Rumah kepala Desa Sri Batara, mulai Minggu,24/10/2021, menuju La Palu, menjadi salah satu jalur untuk masyarakat Wasuamba menuju Puncak Siontapina, dengan lama perjalanan menuju tempat bermalam pertama, dan besoknya baru menuju Puncak Siontapina di Senin, 25/10/2021.

Salah satu Tim Redaksi Spionnews.com yang ikut, La Hiri Mengungkapkan “Perjalanan menuju Siontapina, kami harus melakukan perjalanan selama 3 jam, dengan jalur menanjak gunung dan melewati beberapa alur sungai kecil” imbuhnya.

Yang paling sulit, kata La Hiri, 1 jam perjalanan menuju ke puncak gunung Siontapina, selain jauh, aturan adat jalannya tidak boleh berhenti sebelum menuju puncak.

“Saya sungguh puas dan merasa tidak lelah ketika sudah sampai di puncak” ungkpanya.

Kepala Desa Sri Batara La Kao mengungkapkan “Awalnya saya tidak yakin bisa sampai, karena kondisi jalan yang kurang memungkinkan, namun karena setengah perjalanan mengunakan motor RX-KING, jadi saya sedikit terbantukan” jelasnya. Sabtu,29/10/2021. Setelah turun dari Puncak Siontapina.

Ia menambahkan, di puncak memiliki aturan khusus, bila telah tiba di Puncak, kita tidak boleh membersihkan tempat tersebut, nanti di hari berikutnya, yang mengunakan baju warna Hijau atau biru, baru bisa dibersihkan seluruh gunung puncak Siontapina, yang di atasnya ada Makam Oputa Yi Koo, salah satu pahlawan Nasional asal Buton.

“Acara di puncak pada malam hari di isi dengan tarian Ngibi, dan kebetulan di hari kedua ada sepasang orang Amerika yang ikut hadir di acara adat tersebut, dan mereka ikut Ngibi” imbunya.

Untuk bisa lebih merasakan, kata Kepala Desa, kalian harus datang dan saksikan sendiri agar bisa merasakan nikmat berwisata spritual di Puncak Siontapina.
Ia berharap, bila orang asing mau ikut melestarikan budaya kita, kenapa kita tidak mau melanjutkan dan menjaga agar acara adat istiadat yang ditinggalkan oleh leluhur kita, bisa terus ada dan bertahan hingga masa depan.

“Bila mau ikut acara itu, harus menggunakan Kopiah, dan sarung bagi laki- laki, dan untuk perempuan harus mengunakan sarung, dan rambut di ikat, dan bagi semua masyarakat adat yang ikut tidak boleh mengunakan alas kaki selama mengikuti acara adat tersebut” ungkapnya.

Dan yang penting, ungkap Kepala Desa, wajib membawa baju 3 lembar, warna hijau, warna putih, dan warna Kuning, di hari terakhir kegiatan tersebut.

Liputan : HI/NA/HA.
Editor : Hari.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed