oleh

Islam Maluku Mitra Semua Agama, Muhammadiyah Berkarya di Indonesia Timur

-OPINI-121 views

Spionnews.com, Opini

IMMawan Abdullah Suailo
Penulis

Moto “Hidup yang tak diperjuangkan Tak layak dijalani”

Muhammadiyah adalah salah satu organisasi terbesar di Indonesia dan organisasi yang telah berusia 109 tahun. Pada tahun 18 November 1912 yang di gagas oleh salah satu tokoh ternama KH. Ahmad Dahlan, spirit dari Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah untuk menghindarkan Bi’ah khurafah dan TBC. Bukan saja hal itu Ada yang lebih penting yaitu soal keislaman orang Indonesia yang saat itu, masih mempertahankan kebudayaan lama.

Sehingga terkesan mengikis nilai – nilai keislaman yang diajarkan oleh Rasulullah pada seluruh umat manusia yang ada di muka bumi.

Muhammadiyah yang merupakan organisasi tertua dan terbesar di Indonesia telah memberikan sumbangsih yang signifikan kepada Negara ini.

Mulai dari pendidikan, kesehatan dan keagamaan, tak bisa dinafikan kalau negara telah menjadikan Muhammadiyah sebagai mitra dalam kemajuan bangsa Indonesia yang berkemajuan, tak sampai disitu banyak tokoh politik, tokoh agama dan ekonomi yang telah lahir dari rahim Muhammadiyah sehingga pemahaman tentang politik, keislaman dan kesehatan tak bisa diragukan lagi soal kader – kader Muhammadiyah yang berkiprah di tiap-tiap bidang yang digeluti.

Islam kemuhammadiaan
Pemahaman Islam Muhammadiyah dengan konsep Islam modern sangat relevan dengan realitas kebudayaan Islam Indonesia.
Muhammadiyah mampu membaca dan memahami setiap orang beragama, mengingat Negara Indonesia yang multi agama konsep Islam modern sangat cocok dengan realitas kehidupan agama- agama yang ada di Indonesia.
Tidak sampai disitu pada tahun 2015 di Kota Makasar telah di sepakati oleh seluruh Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang Dakwah Kultural konsep ini makin menarik , karena Dakwah yang dijalankan Muhammadiyah mengijinkan non muslim pun bisa mengikuti akidahnya, tapi memberikan kebebasan kepada setiap orang beragama untuk tetap menjaga akidahnya dalam beribadah pada ajarannya masing-masing.

Konsep ini makin menarik dalam tubuh Muhammadiyah secara khsus dan agama – agama secara umum konsep ini berujung pada hubungan toleransi antar umat beragama agar menjaga tali persaudaraan antar sesama manusia yang bertuhan.

Islam Lokal atau Islam Kedaerahan

Muhammadiyah yang dikenal dengan Islam modern mulai dari konsep toleransi, juga tersentuh pada konsep pluralisme di Indonesia, tapi mereka lupa pada konsep Islam kedaerahan yang luput dari pembahasan tentang Islam kemuhammadiaan, seharusnya Muhammadiyah mampu menjadi pemahaman Islam kemuhammadiaan dalam konsep Islam kedaerahan.
Islam kedaerahan yang dikaji dari budaya, adat istiadat, serta realitas kehidupan orang beragama yang ada di tiap-tiap daerah.

Islam yang dibicarakan sumbernya memang dari Al Qur’an bukan sumbernya dari Arab, oleh sebab itu harusnya ada referensi pembeda soal Islam kedaerahan yang mampu menjadi Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang lebih toleransi dan menghargai adat istiadat dan budaya tiap-tiap daerah.

Bukankah Islam yang paling khafah adalah Islam yang paling menunduk, kalau Islam yang paling khafah maka orang Maluku adalah Islam yang paling khafah , karena mereka yang paling menunduk, serta menghindari kebebasan beragama, konsep ini harusnya di gagas bukan di tinggalkan dan dianggap sebagai pemahaman yang berbahaya dalam tubuh Muhammadiyah.

Konsep ini, juga seharusnya dijadikan sebagai skripsi atau tesis dan dapat dibahas dalam ruang – ruang akademik setelah meneliti secara hidup orang- orang beragama di tiap-tiap daerah masing-masing sehingga spirit toleransi bukan hanya berlaku pada muslim saja, tapi ia berlaku pada tiap – tiap daerah.

Pemahaman ini, sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia yang multi agama, serta mengakui pluralisme agama di Indonesia pada umumnya dan daerah pada khususnya.

***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed