oleh

Kasus Sangkola, Satu Keluarga Jadi Tersangka

-SOSBUD-114 Dilihat

Spionnews.com, BUTON- Nasib apes dialami sekeluarga yang bermukim di lingkungan Lepeka Desa Kombeli Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton berawal dari masalah sepele Wa Samundi (80) Tahun yang adu mulut di pasar Kombeli kedua Anak dan Menantunya jadi tersangka.

Hal itu disampaikan Perwakilan Keluarga Sanatia (40) Tahun kepada awak media ini, Selasa (22/2/22).

Kami ini miris sekali sebagai masyarakat yang tidak paham hukum dan tidak pernah berurusan dengan hukum tapi pada akhirnya dijadikan sebagai tersangka kasus penganiayaan Oleh Polres Buton tepatnya 10 November 2021 lalu dibuktikan dengan adanya surat penangkapan yang ditandatangani oleh AKP Aslim S.H selaku Kasat Reskrim polres Buton saat itu.

Pasal yang disangkakan kepada Kedua saudara dan Ipar saya itu terkait dengan Dugaan perkara Tindak Pidana Dimuka Umum secara bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang dan atau Penganiayaan, Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 Ayat (2) ke-1 Subs Pasal 351 Ayat (1) Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHPidana, berdasarkan Laporan Polisi Nomor : LP 8/91 I IX 2021/ SPKT RES BUTON / POLDA SULTRA, tanggal 16 September 2021.

Kasus ini telah berjalan kurang lebih enam bulan sejak penetapan tersangka dan saudara saya sempat ditahan selama dua minggu.Lalu kami pihak keluarga bersama pendamping hukum ajukan penangguhan penahanan ke Polres Buton dan sekarang masih melakukan wajib lapor.

Selama proses hukum berlangsung berkas perkara keluarga kami telah dua kali di Sp-19 oleh pihak kejaksaan negeri Buton ke pihak penyidik.

Lebih lanjut wanita yang akrab disapa mama Rehan itu mengatakan ” Kasus ini bermula dari Adu mulut ibu kami Wa Samundi dengan orang tua S.M Alias K yang diduga korban penganiayaan Oleh keluarga kami di pasar Kombeli Kecamatan Pasarwajo. Kamis (16/9/21) lalu.

Saat itu ibu saya yang berjualan Sangkola (Kasuami/olahan ubi kayu yang menjadi makanan tradisional untuk wilayah kepulauan Buton) hendak menitipkan jualan kepada ibu korban yang melaporkan kami sehingga menjadi tersangka.

Namun ibu korban menolak dengan agak kasar sampai menyiramkan sayur panas ke tubuh ibu kami dan ibu kami melempar batu dan jatuh di sayur yang dijual ibu korban setelah itu keributan pun terjadi yang akhirnya dilerai oleh warga sekitar.

Saat malam hari anak dari ibu yang berseteru dengan ibu kami yang bernama S.M alias K sekitar pukul 22.15 WITA datang ke rumah saudara saya La Bahari yang menjadi salah satu tersangka dalam kasus ini.

Saat datang ia langsung menunjuk dan hendak mengklarifikasi kejadian yang terjadi di pasar namun adek saya Wa Dama yang suaminya juga ikut menjadi tersangka dalam laporan korban mencoba melerai S.M alias K akibatnya ia ditampar dan ditendang di pinggang kiri rusuknya.

Selain melakukan penganiayaan kepada saudari saya Lelaki S.M alias K juga menendang Meja Kaca di ruang tamu kami sehingga menyebabkan kaki saudara saya La Jati yang juga tersangka dalam kasus penganiayaan mengalami luka robek akibat pecahan kaca di ibu jari kaki dan lutut sebelah kiri mengalami luka robek.

Setelah kejadian itu S.M alias K yang mengaku korban langsung melarikan diri namun ada saksi dari tetangga di samping rumah yang juga keluarga melihat bahwa saat mencoba melarikan diri ia sempat terjatuh sebanyak dua kali dan terkena motor yang parkir di depan rumah.

Singkat cerita setelah kejadian itu kami masih kaget dan langsung mengobati luka yang dialami oleh saudara saya.

Lalu saksi kami yang melihat S.M alias K lari dari rumah bersama rekannya mengambil gambar sebagai bukti untuk melapor ke Polres Buton, Setiba di sana S.M alias K ternyata juga sedang melapor sehingga kami saling lapor polisi.

Yang menjadi keluhan kami hari ini dari pihak keluarga adalah mengapa proses hukum yang berlangsung cukup lama dan tidak jelas. Kami merasa ada diskriminasi hukum.

Dan laporan yang kami masukan justru di arahkan ke Tipiring sedangkan kami ini didatangi dan ada pernyataan Kepala Desa dan Babinsa yang bertanda tangan bahwa kedatangan mereka itu tidak diketahui.

Kami merasa sebagai korban dari keributan yang terjadi Kamis (16/9/21) lalu namun hari ini kami malah menjadi tersangka. Sesalnya

Menanggapi hal itu Kasat Reskrim polres Buton Iptu Busrol menambahkan ” Kasus ini terjadi di masa kepemimpinan sebelum saya menjabat sebagai Kasat Reskrim karena saya baru seminggu di sini.

Ia juga menegaskan bahwa ” Kami tetap memegang prinsip semua orang sama di mata hukum dan untuk proses hukum yang menetapkan tersangka itu minimal dalam proses Sidik dan Lidik kami telah mengantongi dua alat bukti.

Untuk selanjutnya kami akan menyerahkan ke pihak kejaksaan karena kami hanya melakukan proses penyidikan dan itu tentunya telah melalui proses pemeriksaan terhadap para saksi-saksi dari gelar perkara.

Sehingga kesimpulannya menurut hasil pemeriksaan karena ini masih proses dan menunggu dari kejaksaan untuk menaikkan kasus ini ke tahap dua.

Ia membantah dugaan Diskriminasi ” Itu merupakan proses penegakan hukum yang perlu kita sikapi dengan bijak bukan dengan pendapat melainkan merujuk pada KUHP dan tahapan Sidik Lidik yang dilakukan oleh pihak kepolisian.

Finalisasinya nanti tetap di pengadilan karena kepolisian hanya melakukan penyidikan dan mengumpulkan barang bukti. Yang memutuskan benar dan salah itu Majelis Hakim

Ia berharap Seharusnya kita harus lebih mengedepankan musyawarah mufakat di masyarakat karena dalam proses hukum itu hanya akan merugikan diri kita sendiri.

Yang menang jadi arang dan yang kalah malah akan menjadi abu.

Kita hanya akan habis di waktu, pikiran dan materi sebaiknya masyarakat harus lebih bijak dalam bertindak untuk tidak melawan hukum.

***
Editor : Hari

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed