oleh

Acara Adat Cumpea, Di Buton Tengah

-BUTENG-150 Dilihat
Suasana Acara Adat Cumpea di Buteng (Foto : Istimewa)

Spionnews.com, Buton Tengah – Kegiatan budaya yang diadakan setiap tahunnya, acara ini pun dihadiri oleh masyarakat, tokoh adat, pejabat pemerintah Desa Mone, Kec. Lakudo, Kab. Buton Tengah.

Ketika ditemui salah satu Pemerintah Desa La Awe mengatakan “Acara adat Cumpea tahun ini, tidak ada undangan resmi, namun kami, melakukan pelaporan kepada pihak berwajib, serta beberapa perangkat desa lainnya” Ujarnya, Senin, 28/3/2022.

Kata La Awe, karena dalam acara adat ini mengunakan alat tajam, seperti badik, dan parang. Selain itu juga berhubung kepala desa sedang berangkat jadi kami lakukan tanpa undangan resmi.

“Namun acara ini pun, dihadiri oleh para tokoh adat, pak Kapolsek juga hadir, dan masyarakat desa” jelasnya.

Diadakan setiap tahun sekali, Ucap Pemerintah Desa itu, acara adat Cumpea merupakan acara budaya yang dilakukan setiap tahunnya.

“Acara ini berlangsung dimana masyarakat akan berkunjung ke Tapak Raja, namanya sering disebut oleh masyarakat yaitu sangia (Tempat keramat di tanah Buton), yang jaraknya sekitar 5 kilo dari desa ini” terangnya.

Jelasnya, Tapak Raja tempat Raja Sugi Batara bertemu dengan tokoh adat saat itu, dimana pada tahun 1532 H, pernah terjadi musim kemarau panjang, dan kehabisan makanan.

“Oleh sebab itu, Raja Sugibatara pergi bertapaan di suatu tempat, dimana dalam pertapaan itu Raja Sugibatara memohon kepada yang maha kuasa agar dicukupkan makanan bagi rakyatnya” ungkapnya.

Sepulangnya dari bertapaan, maka sang raja pun meminta kepada tokoh adat untuk mengambil bahan makanan yang dibawa oleh raja, mulai dari ubi, jagung, dan bahan makan lainnya, untuk di tanam oleh rakyatnya.

“Namun sebelum di tanam bahan makanan tersebut Ada sumpah raja, dimana makanan tidak boleh ditanam, atau akan dipanen harus di isyarati oleh pemangku adat , seperti parabela, Wati, isanotaga, dimana Desa Mone merupakan masuk wilayah tatanan pemerintahan Kesultanan Buton saat itu” jelasnya.

Dalam isyarati makan itu oleh tokoh adat, dimana mananan akan dibawah ke pinggir pantai antara Desa Mone dan Desa Moko, dilepas dan baru masyarakat boleh memakannya, setelah itu maka di tunggu masa panennya.

“Jadi acara adat ini, acara syakral dan merupakan acara syukuran masyarakat, terhadap hasil Panen yang akan di tanam hingga masa panen, pada musim barat” ungkapnya.

Dalam acara tersebut terlihat selain tokoh adat yang Magaru, ada juga masyarakat desa ikut Magaru dengan mengunakan badik asli. Acara selesai dengan keadaan aman dan nyaman.

Liputan : HT
Editor : Hari

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed