oleh

Lantunkan Kabanti di Pembukaan Napak Tilas Oputa Yi Koo

-SOSBUD-200 Dilihat

Firdha Nurul Ilmi : “Belajar dari Papa”

Spionnews.com| Buton, Kegiatan Napak Tilas Oputa Yi Koo menjadi momentum bagi negeri Buton kembali mengangkat Citra Budaya Lokal. Apalagi Oputa Yi Koo atau Sultan Himayatuddin telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Pembukaan Napak Tilas Oputa Yi Koo dibuka langsung Bupati Buton di Lapangan Banabungi Pasarwajo Senin (23/5). Meski diguyur hujan, namun kegiatan tetap berjalan.

Pembukaan kegiatan diawali dengan lantunan Kabanti Wolio yang dibawakan oleh Firdha Nurul Ilmi, seorang siswi SMA di Kota Baubau yang kini duduk di kelas X. Menjadi pemandangan yang menarik, karena penampilan Firdha dinilai sangat memukau. Apalagi saat ini Lantunan Kabanti Wolio sudah jarang terdengar. “Jangankan kalangan anak dan remaja, saat ini kalangan orang tua pun sudah jarang kita dengar baca kabanti,” kata salas seorang Pengunjung.

Firdha Nurul Ilmi yang kini baru berusia 15 tahun putri kedua Pasangan Bardin dan Aznia kini duduk di kelas X SMAN 2 Baubau. Ia tampil melantunkan Kabati berjudul ‘Bula Malino’. Langgam dan nada yang dilantunkan pun sangat persis dengan yang dilantunkan kalangan orang tua. Saat ditemui usai penampilan, Firdha mengaku bangga bisa berpartisipasi di momen ini. Apalagi ia diberikan kepercayaan tampil melantunkan Kabanti.

“Memang sulit kalau baca Kabanti, tapi saya senang dan mau belajar. Karena kabanti ini syair yang berisi nasehat dari orang tua. Walaupun bahasanya bahasa yang jarang digunakan dalam pergaulan sehari hari. Jadi saya bangga bisa tampil, walaupun diguyur hujan,” katanya.

Firdha mengaku belajar baca kabanti dari ayahnya, yang kerap mengikuti kegiatan budaya dan sering membaca Kabanti. “Saya mulai dengar Papa baca Kabanti sejak saya di kelas 5 SD. Jadi kata kata dalam kabanti itu sering saya dengar. Khususnya Kabanti Bula Malino,” tambahnya.

Meski diakuinya, kalimat dalam kabanti itu tidak sepenuhnya dipahami artinya, karena merupakan kalimat yang jarang digunakan namun dengan membaca naskahnya pelan pelan bisa familiar. “Kalau artinya tidak terlalu paham, hanya sedikitlah bisa mengerti, tapi kadang kadang sulit diucapkan. Jadi kita bisa belajar. Apalagi saat ini kurang yang belajar kabanti,” kata Firdha.

Sebenarnya lanjut Firdha, ia sempat mendaftar dalam Lomba Kabanti dalam Momen Tapak Tilas Oputa Yi Koo ini. Namun tiba tiba cabang ini dibatalkan karena kurang pendaftar. “Saya tidak jadi ikut lomba karena dibatalkan, jadi saya diminta tampil saja isi acara. Waktu itu ada informasi dari panitia kalau Lomba Kabanti ditiadakan karena kurang yang mendaftar,” jelas Firdha lagi.

Liputan : BA
Editor : Hari

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed